Jakarta - Frekuensi makan yang sering dengan porsi banyak membuat berat badan Fendri Hartomo mencapai 106 kg di usia 21 tahun. Ia pun mencoba beragam macam diet penurun berat badan tetapi selalu gagal.
Atas saran sang teman, Fendri pun mencoba menjalankan diet OCD (Obsessive Corbuzier's Diet) yang dikombinasikan dengan olahraga untuk membakar lemak. Perlahan tapi pasti, bobot Fendri turun 27 kg. Nah, berikut ini pengalaman diet Fendri seperti ditulis detikHealth pada Kamis (26/2/2015):
Dulu pola makan saya sangat luar biasa ekstrem. Di samping sering, porsi makan saya juga banyak. Misalkan di rumah atau saat bertamu ada beberapa lauk pauk dan sayur yang berbeda maka saya akan coba semuanya. Saya juga suka makanan yang dijual di luar terutama sop kaki kambing dan makanan bersantan lain seperti tongseng, nasi padang, dan soto. Belum lagi ditambah dengan ayam goreng tepung.
Tapi, kemudian saya memutuskan untuk berdiet. Beberapa pola diet saya coba mulai dari mengganti pola makan dengan yang direbus dan dikukus. Namun, pola ini hanya bertahan 2-3 hari karena setelahnya saya malah bertambah rakus. Kemudian saya menjalankan pola diet ala dokter gizi yang kira-kira hampir sama polanya yaitu mengganti pola makan selama 3 hari dalam seminggu dengan oatmeal kemudian 4 harinya lagi dilanjutkan makan biasa.
Tapi, pola ini hanya bertahan 2-3 hari juga dan saya tambah rakus. Saya pun merasa lelah karena berat tidak turun-turun padahal sudah diimbangi dengan olahraga. Selama beberapa bulan saya sempat berhenti diet. Sampai akhirnya teman saya menyarankan untuk OCD. Oh ya sebelumnya saya juga tidak suka mengonsumsi obat atau susu diet. Walaupun ingin memiliki tubuh ideal tapi saya tidak ingin melakukan cara-cara seperti itu dan lebih suka cara alami.
Nah, yang saya heran dari diet OCD ialah saya bisa makan seperti biasa namun dengan membatasi jam makan sehingga pasokan makanan ke tubuh berkurang, dan secara logisnya maka sangat mungkin berat badan saya turun. Kemudian, olahraga yang saya lakukan persis seperti yang ada dalam teori OCD di mana angkat beban (fitness) lebih cepat membakar lemak daripada treadmill atau olahraga lain yang biasa disarankan orang. Beban yang saya angkat hanya sebanyak 6-8 kali bahkan 4 per set nya.
Seperti di teori, awalnya setiap Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu saya fitness sedangkan Selasa, Kamis, dan Sabtu melakukan 07W yaitu latihan 7 menit yang efeknya sama seperti pola HIIT (high intensity interval training). Selain itu, perut saya juga bisa mengecil tanpa harus melakukan sit up, seperti saran kebanyakan orang. Saat olahraga yang terpenting fokus pada kadar lemak bukan pada berat badan. Saya melakukan hal di atas sampai berat saya mencapai 90-92 kg.
Merasa sudah terlalu nyaman dengan pola ini, pelan-pelan pola makan saya ubah yaitu menghilangkan nasi putih ketika waktu 'buka puasa'. Saya juga lebih banyak makan sayuran berkuah. Pelan-pelan, jendela makan saya berubah dari jendela makan 8 ke 6 ke 4 jam bahkan ke pola puasa 24 jam. Sebelum olahraga dan saat tutup jendela makan saya rutin minum teh tawar hangat untuk menetralkan pencernaan. Saat siang hari saya juga menyikat gigi setelah makan karena nafsu makan jauh berkurang.
Saat bobot di angka 83-85 kg, olahraga saya yaitu fitness di pagi hari selama 30-45 menit dan sore dengan treadmill tapi pola HIIT, selama 23 menit. Kuncinya saya mencari pola olahraga yang paling cocok dan nyaman untuk dijalani. Kadang ada teman-teman yang mengatakan kalau diet saya terlalu cepat turun namun dari teman saya yang menyarankan OCD saya dibilang lama turunnya. Kedua pendapat saya dengarkan dan alhasil saya sekarang memiliki berat 77 kg dan kadar lemak yang membaik.
Setelah itu pola diet saya untuk sementara diubah bukan lagi OCD tapi makan teratur tiga kali sehari. Ternyata selama hampir 2 bulan, dengan pola makan teratur saya bisa menstabilkan pola hidup saat ini. Saya juga biasa mengadakan cheat day sekali seminggu yaitu hari dimana saya bisa makan makanan manis atau junk food. Pola ini akan saya lakukan untuk sementara waktu sampai nanti saya kembali lagi menjalani OCD. Kini saya juga sering berbagi pengalaman dengan teman tentang bagaimana menjalani pola hidup sehat dan memiliki tubuh yang fit.

